JAKARTA – Jubir Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto angkat suara perihal pemberitaan yang berjudul “BIN : 41 Masjid Di Lingkungan Pemerintah Terpapar Radikalisme”.

Wawan mengaku pernyataan tersebut merupakan hasil survei terhadap kegiatan khotbah yang disampaikan beberapa penceramah. Survei dilakukan oleh P3M NU yang hasilnya disampaikan Kepada BIN sebagai early warning dan ditindaklanjuti dengan pendalaman dan penelitian lanjutan oleh BIN.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Arief Tugiman, Kasubdit di Direktorat 83 BIN, dalam diskusi Peran Ormas Islam dalam NKRI, di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Jakarta, Sabtu (17/12).

“Keberadaan Masjid di Kementerian/Lembaga dan BUMN perlu dijaga agar penyebaran ujaran kebencian terhadap kalangan tertentu melalui ceramah-ceramah agama tidak mempengaruhi masyarakat dan mendegradasi Islam sebagai agama yang menghormati setiap golongan,” jelas Wawan dalam pesan rilisnya, hari ini.

Menurutnya, hal tersebut adalah upaya BIN untuk memberikan early warning dalam rangka meningkatkan kewaspadaan, tetap menjaga sikap toleran dan menghargai kebhinnekaan.

Selanjutnya dilakukan pemberdayaan Da’i untuk dapat memberikan ceramah yang menyejukkan dan mengkonter paham radikal di masyarakat.

“Terkait tujuh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terpapar radikalisme, dan 39 persen mahasiswa di 15 Provinsi tertarik dengan paham radikal, benar adanya,” terang dia.

Namun data PTN dimaksud hanya disampaikan kepada Pimpinan Universitas tersebut untuk evaluasi, deteksi dini dan cegah dini.

“Tidak untuk konsumsi publik, guna menghindari hal-hal yang merugikan universitas tersebut,” pungkasnya.