Jakarta – Tingginya tingkat populasi (jumlah) kaum perempuan di Indonesia ternyata menjadi target tersendiri dalam dunia politik terutama saat Pilpres. Tak heran dari setiap kubu capres yang bertarung biasanya memiliki relawan perempuan yang terdiri dari kalangan ibu-ibu (emak-emak) dan remaja putri. Ini membuktikan bahwa suara perempuan sangat potensial untuk menambah suara. Hal itu diakui pula oleh pendiri sekaligus pembina Badan Emak-Emak (BEM), Prof. Tri Erni di Markas besar GL Pro 08, Jl. Menteng Dalam I, Menteng Jakarta Pusat.

Menurutnya, dalam sebuah pemilu kekuatan BEM itu hampir 80% dari perolehan suara yang diperoleh. Angka itu berasal dari seluruh Indonesia. BEM memahami kekuatan dukungan terhadap pasangan Prabowo-Sandi ibarat sebuah tubuh dengan nafasnya adalah para emak-emak militan.

“Langkah para emak-emak yang turun kejalan adalah cara mereka untuk menggantikan anak-anaknya berdemonstrasi menyuarakan aspirasi sekaligus membuktikan kecintaan mereka terhadap NKRI,” ujar Tri yang juga merupakan dosen mata kuliah ekonomi bisnis disejumlah Perguruan Tinggi di Jakarta.

Sebagaimana layaknya formasi sebuah elemen pendukung paslon capres/cawapres yang hendak bertarung, tingkat militansi emak- emak rupanya tidak bisa diabaikan begitu saja. Bagi Tri kekuatan itu luar biasa dan bisa untuk potensi kedepan. “Sekarang saja BEM sudah memiliki Barisan Siaga Emak Emak, ibarat aparat, yang harus siap siaga,” ucapnya.

Dalam menanggapi sebuah isu yang terjadi dimasyarakat, dia mencontohkan pada lonjakan/kenaikan harga-harga yang terjadi saat ini. Jika pada umumnya kaum perempuan (ibu-ibu rumah tangga) akan menangis atau selalu berkeluh kesah, namun BEM berusaha menyikapinya dengan bijak dan mengatur strategi untuk bisa turun aksi diberbagai instansi terkait milik Pemerintah yang dianggap harus bertanggung jawab terhadap kenaikan harga-harga tersebut.

Selama mendirikan BEM, tentu ada suka-dukanya yang ia temui. Menurutnya, rasa suka muncul manakala berkumpul dengan seluruh barisan emak-emak militan dari berbagai kalangan lintas profesi dan jabatan. Kalangan emak-emak entah itu istri Jenderal, dosen, perwira ataupun ibu rumah tangga ternyata bisa berkumpul menyatukan visi dan misi tanpa ada perbedaan. Sementara dikatakan duka adalah manakala mendengar ada anggota BEM yang tengah sakit namun berdomisili jauh.

Para emak-emak yang terhabung dalam BEM seringkali mengadakan pertemuan secara rutin untuk berpolitik cerdas dalam rangka memenangkan paslon Prabowo-Sandi, diantaranya membahas berbagai isu terkini, terutama yang bisa disikapi bersama seperti isu kasus Ratna Sarumpaet, hingga kenaikan harga-harga, hingga rencana untuk berunjukrasa didepan gedung DPR RI dan mengikuti pertemuan akbar di Hambalang, Bogor pada tanggal 28 Oktober nanti.

Tri menegaskan bahwa kekuatan Barisan Emak-emak (BEM) saat ini sudah ada di 34 provinsi. Ia berharap para emak-emak yang tergabung didalamnya jangan sampai diricuh diributkan oleh keadaan atau kesenjangan sosial ekonomi.

“Harapan saya untuk pilpres ini berjalan dengan damai, tidak ada lagi saling sikut-menyikut. Siapun yang menang harus ada perubahan”, harap Tri.

Saat menanggapi berbagai program Pemerintahan Jokowi yang sudah diterapkan, dalam evaluasinya Tri mengakui BPJS dan KIP merupakan program pemerintah yang positif dan bagaimanapun telah dinikmati oleh masyarakat luas. Meski disayangkan pada peogram BPJS merugi hingga Rp 40 triliun tanpa ada kejelasan penggunaannya. Sedangkan program beasiswa atau bantuan pendidikan yang dikemas dalam KIP atau KJP menuritnya maaih seimbang sebab Kalau KJP 50 50 itu begini ibaratnya seimbang bahjan boleh dikatakan bagus. Menurutnya pada program Kartu Indonesia Pintar (KIP) itu program yang bagus. Karena itu program Presiden Jokowi yang manfaatnya dirasakan oleh anak-anak kalangan menengah kebawah. Para siswa yang berasal dari kelas ekonomi menengah kebawah sampai tingkat mahasiswa bisa melanjutkan pendidikannya dengan beasiswa.

“Program ini bagus, terutama untuk mahasiswa juga positif. Hanya saja untuk persyaratan IPK-nya sebaiknya diturunkan sedikitlah, jangan 3 lebih. Kalau sekarang bisa lah 2,7 dan seterusnya. Pokoknya dari program beasiswa pendidikan ini banyak manfaatnya, saya suka,” tutup ibu dari empat orang anak yang sudah 14 tahun menjalani profesinya sebagai dosen.